Sudah lama banget ga nulis. Entah sudah berapa bulan jari jemari ini tak lagi bergerak menjejakkan huruf demi huruf, kata demi kata, yang berakhir sebagai sebuah paragraf atau syukur-syukur menjadi sebuah cerita. Sebuah cerita yang mengalun bagai sebuah symponi, mengalir bagai sungai, yang bisa dinikmati oleh semua orang atau minimal oleh saya sendiri. Ya, minimal harus bisa saya nikmati. Bukan, bukan karena saya tak ingin berbagi, hanya saja tadi saya katakan “minimal oleh saya sendiri”. Itu berarti, apa yang saya tulis harus bisa saya nikmati, kalau tidak bisa saya nikmati sendiri berarti itu bukan tulisan saya. Akhirnya jari jemari ini memulai gerakannya dengan menuliskan sesuatu yang tidak saya mengerti maksudnya tapi bisa saya nikmati. Alhamdulillah.
Sudah lama banget ga nulis. Entah sudah berapa bulan jari jemari ini tak lagi bergerak menjejakkan huruf demi huruf, kata demi kata, yang berakhir sebagai sebuah paragraf atau syukur-syukur menjadi sebuah cerita. Sebuah cerita yang mengalun bagai sebuah symponi, mengalir bagai sungai, yang bisa dinikmati oleh semua orang atau minimal oleh saya sendiri. Ya, minimal harus bisa saya nikmati. Bukan, bukan karena saya tak ingin berbagi, hanya saja tadi saya katakan “minimal oleh saya sendiri”. Itu berarti, apa yang saya tulis harus bisa saya nikmati, kalau tidak bisa saya nikmati sendiri berarti itu bukan tulisan saya. Akhirnya jari jemari ini memulai gerakannya dengan menuliskan sesuatu yang tidak saya mengerti maksudnya tapi bisa saya nikmati. Alhamdulillah.
Kisah perjalanan hidup di Jakarta
Sabtu, akhir bulan November. Bermodalkan hanya dengan tekad tanpa persiapan, kami (saya dan satu temen saya) berangkat menuju kota yang mendapat julukan kota metropolitan, kota yang terkenal dengan kehidupan yang keras dan kejam kata sebagian orang. Ya, Jakarta. Ibukota Negara Indonesia tercinta ini memang sering mendapat julukan yang miring, mulai dari kota para koruptor, kota macet, kota para maling, kota polusi, namun dibalik semua itu Jakarta tetaplah ibukota Indonesia yang digadang-gadang menjadi pusat perekonomian. Sekejam apapun kota Jakarta, kota ini tetap mempunyai nilai lebih di mata para pencari kerja, banyak dari mereka yang rela meninggalkan kota dan desa mereka untuk mengadu nasib di kota metropolitan. Sampai-sampai pemerintah DKI Jakarta, kuwalahan menangani banyaknya pendatang baru yang nekat datang untuk menjajal kerasnya ibukota Indonesia. Toh, mereka yang dari desa dengan kesempatan kerja yang lebih sedikit (pikir mereka) tetap memilih hijrah dengan harapan yang besar.
Saya jadi teringat sebuah buku yang pernah saya baca berjudul “Rich Dad’s Prophecy”. Sebuah buku tentang perjalanan hidup seorang investor dengan segala pelajaran lika-liku kehidupan nyata. Berikut kutipan dari buku tersebut yang masih saya ingat.
NIKE, ADIDAS dan LEA JEANS. Mungkin anda punya barang dengan merk tersebut atau setidaknya anda pernah mendengar nama2 tersebut. Barang-barang dengan branded luar negeri itu sudah begitu membumi di Negara saya. Bahkan di Negara saya, kalau seseorang memakai barang2 dengan branded luar negeri, membuat mereka jadi lebih percaya diri. Seperti layaknya susuk kecantikan yang sangat terkenal di Negara saya.
Dua hari yang lalu ketika saya menghabiskan malam saya bersama mas fandy dan bapak kos saya, sekedar njagong atau ngobrol demi melihat pertandingan sepakbola liga champions antara Ac Milan Vs Man united, saya mendapat cerita tentang barang2 dengan branded luar negeri tersebut. Sebuah cerita yang membuat saya bangga sekaligus malu terhadap diri saya dan Negara saya. Obralan tentang hal itu membuat saya memaksakan mata dan telinga saya untuk kosentrasi dan fokus agar tidak ada satu pun informasi yang terlewat.
Pagi ini saya membuka facebook lewat hp kesayangan saya. Ada satu notification. Lalu saya buka notification itu, yang kemudian saya tahu isinya adalah pemberitahuan bahwa nama saya di tandai dalam sebuah catatan yang di buat oleh pak faisal, kawan saya yang sering menelurkan ide atau gagasannya dalam catatan2 di facebook.
“Isi otak kacang polongku” begitulah judul yang terpampang di catatan kawan saya itu dengan di sertai foto yang terlihat seperti lambang apa gitu, saya juga tak begitu ngerti. Saya baca dengan seksama catatan kawan saya ini. Owh, ternyata tentang kasus gayus tambunan. Sebenarnya saya juga kemaren sudah membuat catatan yang mencatut nama gayus tambunan. Namun saya tidak menyoroti kasus tersebut secara detail dan dalam. Hanya sebagai awalan untuk sebuah pesan yang ingin saya sampaikan.
Lagi-lagi Negara saya dilanda kehebohan. Mungkin memang tahun ini, Negara saya sedang berlangganan kehebohan. Mulai dari kasus anggodo dan anggoro bersaudara sang “penguasa keadilan”, lalu beralih ke fasilitas kamar tahanan artalita sang “ratu keadilan” hingga terakhir yang membuat heboh Negara saya adalah seorang pegawai negeri sipil Ditjen pajak golongan IIIA bernama Gayus tambunan, yang memiliki 25 milyar.
Kasus ini benar2 menyita perhatian publik di negara saya. Entah karena kasus ini benar2 sebuah hal yang baru dan mengejutkan atau mungkin kasus ini terlalu fenomenal. Kalau dikatakan sebuah perkara yang baru???tidak juga. Karena mulai dari kasus anggodo dan anggoro sang makelar kasus, kemudian artalita dengan fasilitas mewahnya di kamar tahanan, lalu gayus tambunan yang memiliki uang bermilyar2 meski hanya seorang PNS gol IIIA, bukanlah hal yang baru di Negara saya.

