Menjadi Bodoh dan Bahagia part 2

Ku terbangun dari mimpi yang tidak begitu jelas siapa orang-orang yang ada dimimpiku. 05.10 wib. Tapi aku masih ingat tentang apa yang ku tulis semalam. Pertanyaan tentang bahagia dan menjadi bodoh seperti si Charlie. Semalam, ketika aku menulis tentang bodoh dan bahagia, otak ini mungkin sedang tidak bekerja dengan baik. Ketika aku terbangun dari tidurku, aku baru teringat kalau 4 jam sebelum aku menulis semalam, sekitar pukul 20.30wib, ada seorang kawanku yang bertanya padaku lewat sms.

“mi, akhir2 ni aku sering banget budreg, stress, pikiranku tak tenang, rasanya otak ini perlu di cuci.” Lalu ku balas sms itu dengan singkat, padat dan jelas. “yowes tho, di gowo nang laundry wae, nang shakira laundry murah.”

Beberapa detik kemudian aku mendengar suara sms masuk lagi. “mi, serius. Ayolah help me, kau selalu punya cara untuk itu. Aku tak pernah melihatmu stress, bahkan ketika kau kehilangan hampir semua uangmu.” Mmmmmhhhh,,, aku tersenyum kecil. Pikiranku melayang, menuju masa itu. Ah, kau tak pernah tahu bagaimana hidupku ketika aku tahu uangku hilang. Uang yang aku kumpulkan sejak 2 tahun yang lalu itu. Kau hanya tahu, ketika aku sudah tersenyum menghadapi kejadian itu. Ya, kau tahu keadaanku tepat seminggu setelah kejadian itu, kau tak pernah tahu apa yang terjadi padaku sebelum itu. Aku hanya manusia biasa sepertimu yang pernah stress, budreg, dan tak selalu siap dengan segala cobaan yang datang.



“oke, aku akan membantumu. Caranya mudah sekali. Turunkan standar kebahagiaan yang kau miliki. Turunkan standar keadaan yang bisa membuatmu tenang atau pun keadaan yang bisa membuatmu tertawa.” Kubalas sms itu dengan tersenyum berharap kau bisa memahami apa yang ku maksud.

Cukup lama juga balasan sms yang datang darimu. Sekitar 5 menit. “ aku tak mengerti, mi. bagaimana caranya menurunkan standar kebahagiaan?” aku mencoba berpikir untuk memberi contoh padamu yang mudah agar kau mengerti. “lihatlah sekelilingmu. Lalu turunkan standar kebahagiaan dan standar yang bisa membuatmu tertawa dan tersenyum. Kau akan menemukan yang ku maksud. Jika masih tidak menemukan dan mengerti apa yang ku maksud. Sms lagi aja. Hehehehehehe”

Sekitar satu menit kemudian, terdengar bunyi sms lagi. Ternyata bukan darimu, tapi dari adekQ si amalia plano. “Gy sumpek qi mz pkranq, tp gag teu npa..pkranq nyabang2 qi..”
Wah harusnya aku membuka praktek jasa konsultasi neh, pikirku. Aku pun membalas sms si amal. “ yo di ketok wae tho pikiranmu ben ga nyabang”

---------->sms terkirim
---------->
----------> sms di terima

“wuasemm, malah d’nggo ngakak owk…huhuhu”

Lalu aku balas lagi sms si amal, tapi di tengah2 itu ada sms masuk.
“eh nduk, aku meh cerito ki. Tapi ojo kondo karo wong2 yo. Saiki aku wes dadi tuhan. Kw gelem tak angkat dadi wakil tuhan ga?”

---------->
---------->sms terkirim

Lalu aku baca sms yang masuk tadi. Oh, ternyata dari kawan saya yang pertama tadi. “makasih mi, aku menemukan seekor cicak dan semut berjalan beriringan. Lucu. Kupikir dia pasti sedang membicarakan driku karena mereka selalu menengok kepadaku dan tersenyum. Aku mengerti apa yang kau maksud, mi.” hahahahahaha…ni anak pasti sedang menuju menjadi gila sepertiku…

Kemudian ada sms masuk lagi. Itu pasti dari si amal, tebakku. Dan benar, sms itu dari dia.

“wong edyan…..Aq moh dadi wakil tuhan, aq pengen dadi dewi kwan im wae…hahahahahahahaha”

Aku tersenyum membaca sms itu. Ya paling tidak si amal sudah bisa tertawa meskipun itu hanya di sms saja.

Semalam mungkin aku lupa, tentang bagaimana menjadi bahagia. Tapi sekarang aku sudah ingat bagaimana menjadi bahagia dengan caraku. Mudah sekali. Hanya dengan menurunkan standar yang selama ini kupunya untuk menilai sesuatu itu termasuk kebahagiaan atau tidak, sesuatu itu termasuk lucu atau tidak, sesuatu itu bisa membuatku tenang atau tidak.

Salah satu contoh yang aku alami adalah ketika aku menonton tukul di TV. Bagiku dia sama sekali tidak lucu. Dan aku selalu berkomentar ketika ada kawan saya yang tertawa melihat tingkah laku tukul. “apanya yang lucu?”kataku. ”itu sama sekali tidak lucu.”kataku menambahi.

1 bulan kemudian aku baru menyadari bahwa ternyata standar untuk sesuatu yang kuanggap lucu itu berbeda dengan kawan saya waktu itu. Kawan saya itu bisa tertawa terbahak-bahak, hanya dengan melihat tingkah konyol tukul. Sedangkan saya tidak. Itulah yang membuat saya berpikir ulang, dan menurunkan standar tentang sesuatu yang aku anggap lucu. Sejak saat itu, aku bisa tersenyum dan tertawa hanya dengan melihat sesuatu yang menurutku dulu adalah hal yang biasa saja. Begitu pula dengan sesuatu yang kuanggap kebahagiaan. Aku menurunkan standar kebahagiaan yang aku miliki. Dengan begitu aku sangat menikmati hidup ini. Dan beberapa orang malah menganggap aku memang gila dengan cara berpikirku ini. Yang jelas, aku tak perlu menjadi bodoh dan tak tahu apa2 untuk menjadi bahagia. Aku punya cara sendiri untuk menemukan kebahagiaanku.

24 pebruari 2010, 06.31wib

Best regards

PaTLu itu Fahmi

4 komentar:

  1. Brian a Newbie mengatakan...:

    mampir ke blog sahabat baru salam kenal ya

  1. Patlu itu Fahmi mengatakan...:

    salam kenal juga

  1. munir ardi mengatakan...:

    selamat malam artikelnya selalu unik sahabat, semangat terus

  1. Patlu itu Fahmi mengatakan...:

    selamat pagi om munir....
    terima kasih atas pujiannya...
    di bandingkan ama artikel om munir ya masih jauh,,,lha wong ini cuma catatn kecil perjalanan hidup sayah....

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan jejak anda di kotak ini. Terima kasih atas kunjungan dan jejaknya.

Related Posts with Thumbnails

Komentar paling Anyar

Search


Kata Mutiara

"Hiduplah sesuka hatimu, bukan sesuka nafsumu."

Empoenya Rumah

Foto saya
Ga ada yang sempurna... Akupun masih jauh dari sempurna... Aku hanya manusia biasa yang juga mempunyai ego, amarah, keinginan, kesalahan,,,dan nafsu...

Penunjuk waktu

Followers

Diberdayakan oleh Blogger.

KotaK saling SAPA

Name :
Web URL :
Message :

jumlah pengintip blog