Sebuah tulisan usang saya

sebuah tulisan usang yang ingin saya bagikan kembali kepada khalayak ramai..selamat menikmati.

Sudah lama banget ga nulis. Entah sudah berapa bulan jari jemari ini tak lagi bergerak menjejakkan huruf demi huruf, kata demi kata, yang berakhir sebagai sebuah paragraf atau syukur-syukur menjadi sebuah cerita. Sebuah cerita yang mengalun bagai sebuah symponi, mengalir bagai sungai, yang bisa dinikmati oleh semua orang atau minimal oleh saya sendiri. Ya, minimal harus bisa saya nikmati. Bukan, bukan karena saya tak ingin berbagi, hanya saja tadi saya katakan “minimal oleh saya sendiri”. Itu berarti, apa yang saya tulis harus bisa saya nikmati, kalau tidak bisa saya nikmati sendiri berarti itu bukan tulisan saya. Akhirnya jari jemari ini memulai gerakannya dengan menuliskan sesuatu yang tidak saya mengerti maksudnya tapi bisa saya nikmati. Alhamdulillah.



Saya akan membiarkan jari jemari saya ini bersautan menimbulkan bunyi tik..tik..tik..karena dengan terdengarnya bunyi tik..tik..tik..itu berarti jari jemari saya sedang bekerja untuk menerjemahkan sinyal yang dikirim oleh otak saya.
Saya sendiri bingung mau menulis apa. Hampir tengah malam, pukul 11 lebih 44 menit ketika saya tengok penunjuk waktu yang ada di HP saya. Berharap mendapatkan inspirasi, biar menjadi satu bacaan yang bisa di baca dan dinikmati. Berpikir, berpikir, mencoba untuk berpikir tentang sebuah cerita apa yang akan saya tulis.

Akhirnya saya teringat tentang sebuah obrolan ketika saudara2 saya berkunjung ke rumah saya. Eh, salah nding, bukan rumah saya tapi rumah bapak ibu saya. Yang saya maksud saudara2 saya itu adalah adik-adik dan kakak-kakak dari bapak dan ibu saya. Mereka datang dari rumah mereka sendiri-sendiri. Itu karena mereka tidak tinggal bersama-sama. Oh iya, saya lupa. Tadi yang saya bilang bahwa saudara2 saya berkunjung ke rumah bapak ibu saya itu juga ternyata kurang tepat, karena sesungguhnya rumah yang dikunjungi saudara2 saya itu adalah rumah dinas dari kantor ibu saya.
Wah, nampaknya jari-jemari saya ini terlalu banyak menulis tentang rumah bapak ibu saya. Baiklah, saya akan memulai cerita tentang sebuah obrolan dari saudara2 saya.

Obrolan ini bertemakan tentang sebuah potret kehidupan jaman sekarang dimana semua serba mahal. Lebih tepatnya tentang mahalnya dunia pendidikan.

Saya hanya tersenyum, ketika saudara2 saya bercerita tentang mahalnya pendidikan jaman sekarang. Saya sempet berpikir, apakah ini ada hubungannya dengan pepatah jaman dulu, yang kalo ga salah berbunyi seperti ini:

“tuntutlah ilmu sampai ke negeri cina”


Apakah para petinggi dalam dunia pendidikan di Indonesia ini, salah kaprah atau salah mengartikan pepatah di atas sehingga keadaan jaman sekarang terasa sama sulitnya ketika negeri ini belum dijajah. Mungkin para petinggi di negeri ini mengartikan pepatah diatas sebagai berikut:

Tuntutlah ilmu hingga ke negeri china

Hal itu berarti ILMU ITU MAHAL. Karena kita dianjurkan menuntut ilmu hingga ke negeri seberang. Itu berarti untuk mendapatkan ilmu kita harus mengeluarkan uang yang banyak karena kita harus keluar negeri. Mungkin biaya pendidikan di negeri kita tercinta ini dihitung berdasarkan hal itu. Makanya biaya pendidikan di negeri kita itu MAHAL.

Coba anda bayangkan berapa biaya yang harus kita keluarkan untuk sampai ke negeri seberang??? Apalagi kita harus bikin visa dan harus mengurus tetek bengek lainnya yang merupakan kebijakan dari negeri kita. Maka ketika saya mendengar dari saudara saya bahwa uang masuk atau mungkin dulu namanya uang gedung di SMA favorit di Kota Kr***k dimana ibu saya dibesarkan oleh kakek dan nenek saya adalah sebesar 7 juta. Saya hanya bisa mengelus dada.

7 juta????
7 juta????


Ya, 7 juta. itu bukanlah jumlah yang sedikit. Bahkan jika saya bandingkan dengan biaya awal kuliah saya, sangat jauh. Dua kali lipat dari biaya awal kuliah saya yang hanya menghabiskan sekitar 3,5 juta. Gaji perbulan kedua orang tua saya saja bila digabungkan tidak sebanyak itu. Bagaimana halnya dengan orang2 yang untuk kebutuhan sehari2 saja susah, apalagi untuk sekolah.

Apakah jaman sekarang ini, PENDIDIKAN hanya untuk orang2 yang kaya atau mampu saja??? Apakah mereka yang tak kaya dan tak mampu, tidak mempunyai HAK untuk mendapatkan PENDIDIKAN??? Mereka juga warga Negara INDONESIA. Dan seharusnya, Negara berkewajiban untuk memberikan PENDIDIKAN yang layak bagi mereka

Saya jadi teringat dengan jawaban kakak saya sendiri yang merupakan seorang guru.
Beliau : “Ya, wajar kalau sekarang biaya sekolah itu mahal. Lagian fasilitas yang mereka dapatkan juga sebanding dengan apa yang mereka bayar.”

Lagi-lagi saya tersenyum mendengar jawaban dari kakak saya tercinta ini. Jika anda cermati kalimat di atas mungkin anda akan berpikir hal yang sama dengan saya yaitu ILMU ITU MURAH, YANG MAHAL ADALAH FASILITASNYA. BERARTI SEKOLAH2 JAMAN SEKARANG BUKANLAH MEMBERI (baca= MENJUAL) ILMU TAPI MEMBERI FASILITAS.

Sumpah, saya benar2 tersenyum ketika mendengar jawaban dari kakak saya. Bahkan ketika saya menulis ini pun saya kembali tersenyum. Saya tersenyum di depan laptop saya yang jelek. Saya senyum2 sendiri ketika sadar ternyata tidak hanya laptop saya yang jelek tetapi ternyata saya itu juga jelek.

Bagaimana nasib orang2 yang di karuniai kecerdasan namun tidak mampu untuk membayar biaya pendidikan yang selangit itu??? Apakah mereka harus merelakan mimpi mereka???
Kan ada sekolah gratis sekarang???? Negara kan sudah menyediakan sekolah gratis. Beasiswa juga masih ada.
Saya tahu dan mengerti (baca= menebak) kalimat di atas akan menjadi jawaban terakhir (baca= senjata pamungkas).

Mungkin sebagian dari anda ada yang berpikir demikian. Berpikir bahwa hal itu adalah solusi atas problema dunia pendidikan di negeri kita.

Tetapi menurut saya hal itu bukanlah solusi. Saya berpikir seandainya semua sekolah yang berlabel NEGERI bukan SWASTA itu sama. Mulai dari biaya SPP, uang gedung dan tetek bengek lainnya. Dan satu lagi, fasilitasnya pun sama. Maka tidak akan ada kesenjangan sosial antara sekolah negeri. Yang membedakan hanyalah prestasi. Tak akan ada lagi alasan yang mengkambing-hitamkan FASILITAS.

Saya tahu ini tidak mungkin. Ini saya hanya berandai-andai saja. Saya hanya menulis apa yang ada dalam pikiran saya saja. Dan pada akhir kata, saya hanya mau mengingatkan bahwa apa yang saya tulis ini hanyalah buah pikiran saya saja. Saya tidak bermaksud menyerang pihak mana pun. Saya hanyalah mengeluarkan pendapat saya melalui tulisan saya ini.

NB: Saya persembahkan sebuah puisi dari saya untuk para petinggi dunia pendidikan.


Ini PUISI bukan DOA

Wahai engkau para petinggi dunia pendidikan…
Dengarkanlah jeritan hati rakyatmu…
Janganlah engkau berpura-pura tuli..
Karena itu akan menjadikan engkau benar-benar tuli…

Wahai engkau para petinggi dunia pendidikan…
Lihat dan Bukalah mata dan hatimu…
Janganlah engkau berpura-pura buta..
Karena itu akan benar-benar membutakan mata dan hatimu


(24-25 september 2009)

Best Regards,


PaTLu itu Fahmi

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan jejak anda di kotak ini. Terima kasih atas kunjungan dan jejaknya.

Related Posts with Thumbnails

Komentar paling Anyar

Search


Kata Mutiara

"Hiduplah sesuka hatimu, bukan sesuka nafsumu."

Empoenya Rumah

Foto saya
Ga ada yang sempurna... Akupun masih jauh dari sempurna... Aku hanya manusia biasa yang juga mempunyai ego, amarah, keinginan, kesalahan,,,dan nafsu...

Penunjuk waktu

Followers

Diberdayakan oleh Blogger.

KotaK saling SAPA

Name :
Web URL :
Message :

jumlah pengintip blog