Rindu bapak sayah

Hari ini sayah begitu merindukan bapak sayah. Bukan tanpa sebab sayah merindukan bapak sayah, melainkan karena hari ini sayah bertemu dengan seorang bapak. Seorang bapak yang begitu besar cintanya pada anak. Bukan bapak sayah memang. Tapi cinta bapak itu mengingatkan sayah pada bapak sayah. Walaupun mungkin cara mencintainya berbeda. Ya, cara mencintai anak antara bapak ini dengan bapak sayah berbeda. Bahkan boleh sayah bilang sangat berbeda.

Sayah mengenal bapak ini dari seorang kawan yang juga seorang bapak juga. Dua tahun yang lalu kira2, saat pertama kali sayah bertemu dengan bapak ini pada sebuah lokakarya di kota tempat sayah menempuh studi sekaligus belajar hidup. Sayah banyak mengenal tentang bapak ini dari cerita kawan sayah. Menurut cerita kawan sayah, bapak ini adalah orang yang hebat. Seorang bos, yang santun, pekerja keras, dan tidak pernah memperlakukan anak buah atau pegawainya semena-mena atau seenaknya. Bahkan, lanjut kawan sayah, bapak ini tidak pernah memarahi pegawainya sekalipun pegawai itu melakukan kesalahan. Sayah pun sekarang mengiyakan cerita kawan sayah itu, karena tidak sekali ini sayah bekerja sama dengan bapak ini. Bahkan sekarang sayah tahu, bahwa bapak ini dari kecil telah melewati kehidupan yang menurut sayah sangat berat. Hidup dengan segala keterbatasan, berteman kemiskinan dan kehilangan sosok seorang bapak sejak beliau berumur 6 tahun.

Entah karena apa, bapak ini bercerita tentang anaknya. Beliau sama sekali belum pernah bercerita tentang kehidupan pribadinya pada sayah. Beliau memang sering menasehati dan bercerita tentang banyak hal, tapi tak sekalipun beliau bercerita tentang kehidupan pribadinya. Tentang anaknya tepatnya. Tentang anaknya yang 1 tahun lebih muda dari sayah. Tentang hidup anaknya yang jauh dari gambaran bayangan beliau. Tentang anaknya yang tak pernah menghargai dan mensyukuri hidup. Tentang anaknya yang dulu ketika lahir begitu lucu dan menyenangkan. Tentang anaknya yang selalu beliau beri cinta dan doa. Tentang anaknya yang sekarang hidup di balik jeruji besi karena narkoba. Tentang anak satu-satunya yang telah begitu mengecewakannya. Tentang bagaimana beliau selalu berusaha menuruti kemauan anaknya, demi melihat anaknya itu tersenyum bahagia.


Beliau sangat terpukul ketika mengetahui anaknya itu ditangkap polisi karena narkoba. Enam hari beliau tidak keluar rumah bahkan keluar kamar pun tidak. Bukan karena malu, tapi beliau berusaha menenangkan diri. Selama enam hari berdiam di kamar itulah, beliau menyadari kesalahannya. Kesalahan dalam memperlakukan anaknya. Sesungguhnya bisa saja, beliau mengeluarkan anaknya dari penjara karena tidak sedikit petinggi kepolisian yang beliau kenal baik. Tapi akhirnya beliau memutuskan untuk mengakhiri kesalahan-kesalahan masa lalu beliau dalam mendidik anaknya. Beliau memutuskan untuk membiarkan anaknya di hukum sesuai dengan apa yang anaknya lakukan. Beliau ingin memperbaiki kesalahan2 yang dulu ia lakukan. Biarlah ia belajar tentang hidup yang sesungguhnya di balik jeruji besi, kata beliau.

Sayah sendiri tak pernah menyangka bahwa kehidupan yang sudah begitu beratnya beliau lalui semenjak umur 6 tahun itu ternyata belum tuntas. Cobaan itu datang dari anak yang selama ini selalu beliau beri kasih dan doa. Dan sayah pun hanya bisa terdiam. Bukan karena tak bisa berkomentar atau menasehati tapi saya teringat bahwa tak semua orang ketika cerita atau curhat membutuhkan komentar atau nasihat, kadang kala ia hanya ingin didengarkan saja, atau bisa juga ia hanya ingin bercerita atau curhat.

Tepat ketika bapak itu pergi, sayah jadi teringat tulisan Prie GS, bahwa ada jenis kasih sayang yang lebih layak disebut tipuan, meski datang dari orang tuamu sendiri. Bukan berarti bapak dan ibumu lalu boleh disebut penipu. Belajarlah mengerti bahwa jebakan alam ini dapat dipasang kepada siapa saja, pada orang-orang dekatmu dan kadang malah orang yang paling engkau cintai, pada anak-anak dan istrimu kelak. Jadi, siapa bilang kerusakan itu cuma dititipkan hal-hal yang tampak kotor dan jahat. Ia dapat pula lewat jalan cinta, kasih sayang dan hal-hal yang tampak mulia.

Bapakku, sayah merindukanmu. Engkaulah yang mengajari sayah tentang kesederhanaan. Engkaulah yang mengajari sayah tentang berbuat baik pada siapapun. Ya, engkau mengajari sayah kesederhanaan semenjak aku kecil. Engkau tak selalu memenuhi keinginan sayah. Engkau pula yang mengajari sayah untuk berbuat baik pada siapapun, menolong siapa saja bahkan meskipun kita sedang dalam keadaan yang kurang baik. Meskipun sayah tidak selalu bisa menjalankan apa yang kau ajarkan. Meskipun dulu sayah sangat tidak setuju dengan prinsip berbuat baik pada siapapun dan dalam keadaan apapun. Bukannya sayah tidak setuju dengan prinsip berbuat baik pada siapapun tapi dulu hanya tidak setuju pada kalimat terakhir “dalam keadaan apapun”. Karena dulu otak ini belum memahami makna dari “dalam keadaan apapun”. Karena dulu otak ini hanya berpikir bahwa berbuat baik itu juga harus melihat kondisi kita sendiri. Karena dulu otak ini hanya mengerti bahwa jika kita sedang tak mampu atau mampu tapi kita sendiri sedang tertatih-tatih tak perlu untuk memaksakan diri untuk berbuat baik.

Tapi anakmu yang sekarang telah mengerti apa yang engkau maksud bapakku. Sekarang sayah telah mengerti mengapa menolong dan berbuat baik itu tak mengenal waktu dan kondisi. Bahkan ketika kita sedang terjatuh pun. Bahkan jika dalam kondisi dimana anakmu ini hanya mempunyai uang 50rb dan di datangi seorang teman dengan maksud meminjam uang 50rb itu. Bahkan ketika engkau baru saja sembuh dari sakitmu datang seorang tetangga yang meminta bantuanmu untuk mengantarkan ia untuk berobat ke luar kota. Anakmu ini masih ingat betul, waktu itu ibuku tercinta juga melarang engkau untuk pergi, memohon engkau untuk tidak pergi karena engkau baru saja sembuh. Itupun belum sembuh benar. Tapi engkau tetap pada prinsipmu bahwa menolong dan berbuat baik kepada siapapun dan dalam kondisi apapun. Ya, anakmu sekarang mengerti atas apa yang engkau ajarkan. Anakmu ini sekarang mengerti bahwa menolong dan berbuat baik kepada orang lain disaat kita sendiri dalam keadaan yang kurang baik atau bahkan tidak baik adalah cobaan yang sesungguhnya.

Anakmu ini juga belajar dari seorang bapak yang bernama Prie GS. Anakmu ini belajar dari tulisan-tulisan Prie GS yang hampir mirip dengan prinsipmu, bapakku. Bahwa “Mudah untuk berderma ketika hati sedang gembira, tetapi sanggupkah kita memberi ketika hati kita sedang begitu marahnya?”

Bapakku, saat ini anakmu begitu merindukanmu. Terima kasih bapakku atas apa yang engkau ajarkan pada sayah. Dan terima kasih juga pada Prie GS yang banyak membantu sayah memahami tentang makna hidup itu sendiri dengan tulisan-tulisannya.

Best regards

Patlu itu Fahmi

8 komentar:

  1. Ferdinand mengatakan...:

    aku juga cinta sama bapakku...biarpun dari kecil dulu aku jarang nurutin perintah mereka hhe.....

    Sejahat apapun anaknya ga mungkin si Bapak ga mau nerima klo anaknya minta maaf ya Sob....

    slam knal sebelumnya N makasih udah mampir...

    aku FOllow skalian(DJ Site)... klo berkenan Follow balik ya Sob..

  1. septian mengatakan...:

    wah sama, bapakku juga kerjanya di Kalimantan, jarang pulang . . tp hrs ttp Smangat dah ,hehe

  1. Patlu itu Fahmi mengatakan...:

    iya,,,si bapak memang ngangenin...

  1. IYO mengatakan...:

    waah, asik yah punya kenalan orang sukses.. bapakku juga mengajarkan untuk bisa lebih sederhana tapi bersahabat. tapi bapakku kebanyakan ngelawak -___-

  1. munir ardi mengatakan...:

    pelihara baik-baik hubungan dengan orang tua, aku aja yang udah tua begini, masih sangat memerlukan figur ayah , tapi ayang mereka berdua telah berpulang

  1. Aku mengatakan...:

    Rindu ayah juga....udah 16 tahun ayahku pulang ke pangkuan-Nya.. :)

  1. Patlu itu Fahmi mengatakan...:

    @om munir : iya om,,,beliau selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk sayah....begitu juga sayah sebaliknya...

  1. Brian a Newbie mengatakan...:

    mampir baca artikel bagus sobat

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan jejak anda di kotak ini. Terima kasih atas kunjungan dan jejaknya.

Related Posts with Thumbnails

Komentar paling Anyar

Search


Kata Mutiara

"Hiduplah sesuka hatimu, bukan sesuka nafsumu."

Empoenya Rumah

Foto saya
Ga ada yang sempurna... Akupun masih jauh dari sempurna... Aku hanya manusia biasa yang juga mempunyai ego, amarah, keinginan, kesalahan,,,dan nafsu...

Penunjuk waktu

Followers

Diberdayakan oleh Blogger.

KotaK saling SAPA

Name :
Web URL :
Message :

jumlah pengintip blog