Standar kemapanan : syarat mempersunting wanita

”Apa yang kamu punya?”
”Pekerjaan kamu apa? ”


Dua kalimat yang saya dengar ketika saya dengan terpaksa menonton sebuah sinetron. Keterpaksaan yang disebabkan karena remote tv dikuasai bapakku tercinta. Dua kalimat itu mengganggu pikiran saya malam ini. Saya jadi membayangkan keadaan itu terjadi pada saya. Keadaan dimana saya sedang ditanyai dua kalimat tersebut. Kenapa dua kalimat tersebut seperti menjadi sesosok monster yang menakutkan bagi saya.

Apa yang ada dalam pikiran anda ketika membaca dua kalimat tersebut? Kondisi seperti apa yang anda bayangkan untuk dua kalimat tersebut?


Oke. Saya akan menjelaskan keadaannya. Seorang laki-laki jatuh cinta pada seorang perempuan, tapi tidak di setujui bapak dari si perempuan karena si laki-laki ini hanyalah seorang yang tak punya apa2, tak punya pekerjaan yang menjanjikan kemewahan hidup, yang dia punya hanya cinta yang tulus. Lalu keluarlah kalimat pamungkas dari sang bapak dari perempuan. “kamu mau memberi makan anakku dengan cinta? Makan tuh cinta”.

Anda mungkin berpendapat, bahwa ketakutan saya itu berlebihan. Keadaan itu hanya ada di sinetron saja. Sinetron itu suka melebih-lebihkan sesuatu, karena kalau tidak begitu ntar nggak laku. Tapi bagi saya, keadaan seperti itu bukan hanya ada di sinetron saja. Di dunia dimana saya hidup juga ada keadaan seperti itu. Bahkan dari yang saya lihat di sekitar saya, keadaan itu malah lebih parah. Sekali lagi, lebih parah menurut saya lho. Jadi bagi anda yang tidak setuju dengan saya jangan menuntut saya.

Jika di dalam sinetron itu, sang bapak yang menanyai hal itu, tapi di sekitar saya, di lingkungan dimana saya hidup yang menanyai hal itu sudah bukan lagi orang tua si perempuan tapi si perempuan itu sendiri. Sesungguhnya memang tak secara langsung si perempuan ini menanyakan hal itu, tapi mereka sudah mempunyai program di otak tentang kriteria atau standar hidup yang harus di penuhi si laki-laki jika mau menyunting dirinya.

Sering kali kawan-kawan wanita saya mengatakan hal itu kepada saya. Bukannya mereka materialistis, tapi mereka juga tak mau hidup dengan segala keterbatasan. Uang memang bukan segalanya, tapi tanpa uang kita bisa sengsara dan dengan uang kita bisa membeli segalanya, kata kawan wanita saya. Memang tak semua wanita mempunyai pola pikir seperti itu, tapi juga tak bisa dikatakan sedikit yang berpikir seperti itu. Berpikir bahwa hidup itu butuh uang. Tidak hanya cinta, tapi juga uang. Atau saya lebih sering mendengar kata mapan. Ya, kemapanan. Wanita selalu menggembar-nggemborkan bahwa salah satu kriteria atau syarat untuk menyuntingnya adalah kemapanan. Bahkan ada yang berpikir, yang penting adalah kemapanan, cinta itu bisa datang setelahnya. Cinta datang karena terbiasa. Witing tresno jalaran soko kulino.

Yang jadi pertanyaan saya adalah standar kemapanan itu sendiri. Bagaimana kita bisa mengetahui standar kemapanan para wanita ini. Apakah mempunyai pekerjaan dengan gaji hanya 1,5jt/bulan sudah bisa dikatakan mapan? Ataukah standar laki-laki bisa disebut mapan adalah ketika si laki-laki itu sudah memiliki rumah sendiri, motor dan mobil sendiri, pekerjaan dengan gaji 4 jt/bln. Terlalu relatif untuk mengukur standar kemapanan seorang wanita.

Saya tak tahu mau dibawa kemana tulisan saya ini. Bagi saya, hal ini terlalu fiktif. Fiktif karena saya tak tahu bagaimana mengetahui standar kemapanan pasangan kita. Pasangan yang kita harapkan menjadi pendamping hidup kita. Pasangan yang kita harapkan selalu membangunkan kita di pagi hari dengan sebuah kecupan mesra.

Ah, saya jadi pusing sendiri. Dua kali pusing. Pertama pusing karena dua kalimat maut yang saya dengar dari sebuah sinetron. Dan yang kedua, pusing karena tulisan ini malahg membuat saya bingung sendiri... hahahahahahaha

Entahlah, pesan apa yang mau saya sampaikan di akhir tulisan ini. Saya tak tahu. Tapi saya mau mengakhiri tulisan ini dengan menjawab dua kalimat pertanyaan yang saya tulis di awal tadi.

”Apa yang kamu punya?”

saya tidak punya apa2, karena sesungguhnya segala yang menurut orang punya saya, adalah kepunyaan Tuhan saya, saya hanya di amanahi untuk menjaganya sementara. Ya, hanya sementara karena semua itu bisa saja di ambil lagi oleh Tuhan saya, termasuk cinta saya

”Pekerjaan kamu apa? ”


Pekerjaan saya adalah mahasiswa serabutan.

Satu kalimat terakhir dari saya.

” materialistis dengan realistis itu beda. Materialistis sering mengelabui diri kita sendiri sehingga kita menganggap bahwa itu adalah realistis.”

Saya sengaja tidak mengurai perbedaan materialistis dan realistis dari sudut pandang saya. Sekarang waktunya bertanya pada diri anda sendiri, termasuk manakah diri anda? Realistis atau materialistis?

01-03-2010

Best regards

PaTLu itu Fahmi

4 komentar:

  1. Latifah Hizboel mengatakan...:

    Dengan pertanyaan seperti itu, jawablah dengan jujur, apa adanya dan jadilah diri sendiri.

  1. Lulus Sutopo mengatakan...:

    He,he,he,..itu kadang juga ada dalam kehidupan kita,..

  1. Newsoul mengatakan...:

    Apa yang kamu punya ? banyak, jawab aja gitu, hehe. Standard, bisa disepakatai, katanya.

  1. Patlu itu Fahmi mengatakan...:

    hehehehehe,,,kalau di sepakati berarti kayak kawin kontrak dong...xixixixixixi

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan jejak anda di kotak ini. Terima kasih atas kunjungan dan jejaknya.

Related Posts with Thumbnails

Komentar paling Anyar

Search


Kata Mutiara

"Hiduplah sesuka hatimu, bukan sesuka nafsumu."

Empoenya Rumah

Foto saya
Ga ada yang sempurna... Akupun masih jauh dari sempurna... Aku hanya manusia biasa yang juga mempunyai ego, amarah, keinginan, kesalahan,,,dan nafsu...

Penunjuk waktu

Followers

Diberdayakan oleh Blogger.

KotaK saling SAPA

Name :
Web URL :
Message :

jumlah pengintip blog