cinta saya terhadap kyai XXX

Jogja memang kota sejuta romansa. Kota yang membuat saya belajar tentang romansa. Saya belajar tentang sebuah rasa. Rasa kagum atau mengagumi seseorang. Berpikir bahwa seseorang itu terlihat seperti sempurna. Sebenarnya sudah sejak lama pula saya tahu bahwa sesuatu yang berlebihan itu tak baik. Entah itu rasa kagum atau rasa cinta atau apapun. Namun memang terkadang, apa yang kita pelajari itu harus benar2 kita rasakan sendiri atau dengan kata lain kita jalani sendiri bukan atas pengalaman orang lain agar benar2 membekas di hati kita.

Hal itulah yang saya dapatkan di kota jogja kemarin. Sebuah pengalaman yang membuat saya ingat akan pelajaran tentang sesuatu bahwa “berlebihan itu tak baik”. Sebuah cerita yang berawal dari kekaguman saya kepada seorang kawan saya yang bernama maulin ni’am. Saya mengenalnya sejak SMA. Lebih tepatnya ketika dia menjabat Ketua OSIS kala itu yang kebetulan ternyata saya juga menjadi pengururs OSIS bidang Olahraga. Dari situlah saya mengenal sosok ni’am yang lantas menjadikan diri saya sebagai orang yang mengaguminya atau saya sebut jamaah ni’am saja.



Cara pikirnya, sikapnya, semangatnya, seolah tak bercelah di mata saya. Hal itu pula yang terlihat ketika saya pertama kali bertemu dengan ni’am di kota sejuta romansa, meskipun entah sudah berapa kali saya berkunjung ke kota itu. Saat itu sekitar tanggal 6 atau 7 maret 2010, saat dimana saya dan pak tonx beserta pak gun berencana menikmati liburan di jogja. Kopi joss nama tempat kala aku, ni’am, pak tonx, pepeng dan roni bercengkrama disana. Kami pun berdiskusi mengenai apa aja yang menjadi gundah gulana kami. Dan lagi-lagi ni’am lah yang menjadi pusat diskusi seolah2 dia adalah kamus berjalan yang tahu jawaban masalah atau keluh kesah kami. Sungguh terlihat seperti sosok yang tak bercelah di mata saya.

Namun akhirnya, sebuah peristiwa di kopi joss pula itu yang menyadarkan saya akan sebuah pelajaran yang sudah lama kudapatkan dari seseorang, bahwa sesuatu yang berlebihan itu tak baik termasuk rasa kagum atau rasa cinta. Hohoho,,,sebenarnya saya ini mengagumi ni’am apa mencintai ni’am ya??

Ya, rasa kagum atau cinta saya kepada ni’am memang terlalu berlebihan, hingga saya beranggapan bahwa dia selalu terlihat sempurna atau lebih tepatnya tak boleh terlihat tidak sempurna di mata saya. Dan ketika pada akhirnya dia melakukan sesuatu yang terlihat tidak sempurna di mata saya atau mengecewakan saya, maka rasa kecewa itu pun berlebihan pula. Akibatnya rasa kecewa yang berlebihan itu pula saya melupakan bahwa ni’am itu juga seorang manusia biasa, sangat biasa malah, kata ni’am.

Dua pelajaran yang sudah saya dapatkan tapi saya lupakan dan akhirnya diingatkan kembali di kota sejuta romansa bahwa “sesuatu yang berlebihan itu tak baik” dan “tak ada manusia yang sempurna”. Ketika kita memegang teguh bahwa “tak ada manusia yang sempurna”, maka tak ada alasan untuk tidak memaafkan atau memaklumi kesalahan atau kekurangan orang, kata seorang kawan saya dulu.

Inilah kisah rasa cinta saya terhadap ni’am. Bagaimana dengan anda??apakah anda juga merasakan apa yang saya rasakan??wkwkwkwkwka

Best regards

PaTLu itu Fahmi

Label: , , ,

1 komentar:

  1. Failasufa Karima A.N mengatakan...:

    hahahahhahahahhahahhaa...
    Jatuh cinta karo Ni'am reeekk...
    Aku juga sih. Belum nemu celah jeleknya mas Ni'am.

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan jejak anda di kotak ini. Terima kasih atas kunjungan dan jejaknya.

Related Posts with Thumbnails

Komentar paling Anyar

Search


Kata Mutiara

"Hiduplah sesuka hatimu, bukan sesuka nafsumu."

Empoenya Rumah

Foto saya
Ga ada yang sempurna... Akupun masih jauh dari sempurna... Aku hanya manusia biasa yang juga mempunyai ego, amarah, keinginan, kesalahan,,,dan nafsu...

Penunjuk waktu

Followers

Diberdayakan oleh Blogger.

KotaK saling SAPA

Name :
Web URL :
Message :

jumlah pengintip blog