Sembilan ASU Niam

Jogja, sebuah kota yang takkan pernah terlupa. Sebuah kota yang menyimpan banyak kenangan tentang perjalanan hidup saya. Sebuah kota yang dipenuhi dengan orang-orang kreatif, yang membuat kota ini tak ada matinya dalam berkarya dan menciptakan sesuatu yang baru.

Entah sudah berapa lama saya tidak menginjakkan kaki di kota pelajar. Sekitar pertengahan desember , terakhir kali saya mencium aroma jogja. Namun lawatan saya kali ini memang berbeda dengan terakhir kali saya ke kota itu. Agenda lawatan kali ini resmi untuk bersilaturahmi dan menghabiskan waktu untuk bersenang-senang dengan kawan-kawan saya di jogja.



Perjalanan ini saya mulai dari kota atlas hari jumat siang. Yang kemudian saya di jemput oleh saudara isnain fuady atau lebih sering saya penggil pepeng di terminal kota jombor. Malam harinya saya bernjak dari kos pepeng untuk mencari makan dan sekedar jalan2 keliling kota jogja. Makan oseng2 di terminal congcat, kemudian melanjutkan perjalanan melewati pasar kembang, lalu berhenti di sebuah toko buku.
Hari kedua di jogja. Datanglah mahluk dari ibukota Indonesia, sitonx atau pak faisal. Lalu kami menghabiskan waktu di sebuah tempat dimana kami bertiga bebas berteriak dan bergaya sesuka kami selama 4 jam. Sore hari, kami mencoba menggalang massa dengan menghubungi satu persatu kawan2 yang berada di kota jogja. Lalu mampirlah kami ke tempat persinggahan saudara ni’am, ketua osis saya waktu jaman SMA dulu. Lalu kami beranjak menu alun2 kota jogja, yang kemudian dilanjutkan menuju tempat untuk mencicipi minuman “kopi joss”.

Di “kopi joss” inilah sebuah cerita menarik muncul. Sebuah cerita menarik tentang seorang ni’am. Sembilan “asu” niam, itulah judul yang saya torehkan untuk catatan ini. Berawal dari sebuah pertanyaan saya tentang asal usul cerita tentang wanita adalah tulang rusuk laki2. Sebuah pertanyaan yang kemudian menjadi diskusi antara saya, ni’am, sitonx, roni, dan pepeng. Sebuah diskusi yang cukup panjang. 3 jam kami berdiskusi. Mulai dari tentang wanita, idealisme, kekhawatiran dalam berkeluarga khususnya mengasuh anak, dan cerita tentang rohis di kampus saya serta banyak hal yang lain.

Hanya saja, selama sekitar 3 jam berdiskusi itu, saya, pepeng dan sitonx menemukan satu hal menarik dari perkataan yang keluar oleh mulut saudara ni’am. Sebuah kata “asu”. Kata umpatan yang sering saya temukan dalam dunia pergaulan saya. Sembilan kali, saya dan kawan saya mendengar kata itu keluar dari saudara ni’am selama 3 jam berdiskusi. Wow. Sayangnya saya tak bisa mengingat seluruh moment saat ni’am mengeluarkan kata “asu” tersebut. Saya hanya ingat penyebab keluarnya kata “asu” yang ke Sembilan dari saudara ni’am. Yakni sebuah gantungan kunci dari kunci motor yang di rampok sitonx untuk jalan2 di jogja. Sebuah gantungan kunci biasa namun mempunyai daya magis yang luar biasa.

Saya rasa cukup sampai disini cerita saya tentang perjalanan di kota jogja. Terima kasih buat temen2 di jogja yang sudah bersedia menemani saya dan pak faisal. Jogja never ending. Entah apa arti tulisan itu tapi yang jelas saya tak pernah bosan dengan suasana jogja. Semoga dalam waktu dekat bisa kembali ke kota itu lagi. Dan maaf, kalau ada perbuatan dan perkataan dari saya yan kurang berkenan. Satu kata terakhir, emange kowe thok seng sugeh. Hahahahahahahaha

7 maret 2009, 23.36 wib

Best regards

PaTLu itu Fahmi

Label: , , ,

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan jejak anda di kotak ini. Terima kasih atas kunjungan dan jejaknya.

Related Posts with Thumbnails

Komentar paling Anyar

Search


Kata Mutiara

"Hiduplah sesuka hatimu, bukan sesuka nafsumu."

Empoenya Rumah

Foto saya
Ga ada yang sempurna... Akupun masih jauh dari sempurna... Aku hanya manusia biasa yang juga mempunyai ego, amarah, keinginan, kesalahan,,,dan nafsu...

Penunjuk waktu

Followers

Diberdayakan oleh Blogger.

KotaK saling SAPA

Name :
Web URL :
Message :

jumlah pengintip blog