Mahasiswa=demo=anarkis= haruskah?benarkah?

Mahasiswa. Satu kata yang ternyata hanya berarti sebuah status saja. Dulu status saya pelajar SMA dan kini berubah menjadi Mahasiswa. Tak terasa sudah hampir 5 tahun saya berstatus mahasiswa. Status mahasiswa bagi saya berarti kemudahan. Kemudahan untuk mengakses kemana saja atas nama mahasiswa. Dari tahun pertama hingga sekarang, entah sudah berapa kali saya bepergian dengan menyandang status mahasiswa. Maksud saya, bepergian atas nama mahasiswa yang sering dibiayai oleh Negara.

Beberapa hari yang lalu saya melihat berita tentang kerusuhan atau bentrok yang terjadi di daerah Makassar, Sulawesi. Bentrok antara mahasiswa dan aparat kepolisian yang melibatkan warga pula. Miris pula hati saya melihat hal itu. Demo yang berujung rusuh dan anarkis, sering kali terdengar di Negara saya. Yang jadi masalah, demo di Negara saya identik dengan kata mahasiswa. Ya, pelaku demo di Negara saya memang identik dengan mahasiswa, entah itu mahasiswa beneran atau mahasiswa sewaan.



Saya bukannya tidak setuju dengan sikap mahasiswa yang melakukan demo, tapi saya hanya tidak setuju jika demo itu kemudian berakhir rusuh dan anarkis. Bagi saya, demo adalah salah satu bentuk pengawasan dari mahasiswa kepada pemerintah. Karena memang sudah seharusnya mahasiswa ikut andil mengontrol jalannya pemerintahan. Mumpung jiwa idealismenya masih tinggi. Terlepas dari sisi negative demo yakni rusuh dan anarkis, saya pikir demo adalah hal yang baik. Saya sering berandai-andai, suatu saat nanti demo tidak lagi rusuh dan anarkis. Hanya berupa aksi simpatik dengan membagikan buah pikiran mahasiswa tentang jalannya pemerintahan. Entah itu hanya selembar kertas yang berisikan pemikiran mahasiswa atau sikap mahasiswa terhadap berbagai permasalahan yang sedang terjadi.

Tapi mungkin pula apa yang dilakukan mahasiswa sekarang aksi berdemo hingga berakhir rusuh dan anarkis juga bukan semata2 salah mahasiswa. Melainkan mungkin jika tidak anarkis dan rusuh, suara mereka tidak pernah di dengar karena para petinggi atau pejabat sudah tidak peduli dengan suara mahasiswa. Dan mungkin memang benar, karena ketika terjadi demo anarkis dan rusuh, tuntutan para mahasiswa ini sepertinya langsung di dengar.

Satu hal yang saya sukai dari berdemo adalah belajar untuk berbicara. Belajar untuk menyuarakan pendapat. Berapa banyak, orang di Negara saya yang peduli dengan keadaan Negara tapi tak bisa bersuara. Mereka hanya bisa berdiam di rumah, atau suara dan pemikiran mereka hanya membeku di otak saja.
Bukankah ada DPR?? Dewan Perwakilan Rakyat?? Yang katanya tempat untuk menyalurkan aspirasi rakyat. Sekali lagi bagi saya, DPR tidaklah lebih dari pencari uang semata.
Yang jelas, bagi saya demo adalah alat untuk menyuarakan pendapat dan salah satu bentuk pengawasan terhadap jalannya pemerintahan, terlepas dari anarkis dan rusuh tentu saja.

Bagaimana dengan anda?bagaimana suara anda tentang demo?

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan jejak anda di kotak ini. Terima kasih atas kunjungan dan jejaknya.

Related Posts with Thumbnails

Komentar paling Anyar

Search


Kata Mutiara

"Hiduplah sesuka hatimu, bukan sesuka nafsumu."

Empoenya Rumah

Foto saya
Ga ada yang sempurna... Akupun masih jauh dari sempurna... Aku hanya manusia biasa yang juga mempunyai ego, amarah, keinginan, kesalahan,,,dan nafsu...

Penunjuk waktu

Followers

Diberdayakan oleh Blogger.

KotaK saling SAPA

Name :
Web URL :
Message :

jumlah pengintip blog