Payung pengingat memori

Jumat, 19 pebruari 2010.
Hari ini hari jumat. Begitulah orang-orang menyebutnya. Saya sendiri tak tahu asal usul mengapa hari ini dinamai hari jumat dan besok adalah hari sabtu lalu setelah sabtu adalah hari minggu, lalu berturut-turut hari senin, selasa, rabu, kamis dan kembali lagi menuju hari jumat. Saya tak tahu karena dulu di sekolah sejak saya sejak masih TK hingga saya kuliah tak pernah dikasih tahu mengapa hari ini dinamai hari jumat dan mengapa hari lainnya dinamai sabtu, minggu, senin, selasa, rabu, kamis lalu kembali lagi hari jumat. Saya tak tahu bukan karena saya tak mau tahu, namun karena lingkungan saya pun tak pernah mencoba bertanya kenapa hari ini dinamai hari jumat. Ya sudahlah, saya tak mau memusingkan hal itu, karena saya yakin lingkungan saya juga tak mau berpusing ria memikirkannya dan juga karena apa yang ingin saya tulis sebenarnya bukan mengenai hal itu. Ya, saya ingin menulis tentang apa yang terjadi hari ini, apa yang saya lalui dan apa yang kemudian mnyebabkan saya ingin menulis tentang hari ini.

Hari ini tak ada yang spesial. Hanya hari jumat biasa. Tapi bagi saya hari ini adalah hari jumat yang menggugah otak saya untuk mengingat sebuah memori tentang bagian perjalanan hidup saya. Hari ini saya berusaha mengingat kapan terakhir kali saya menggunakan payung. Ya, payung. Alat itu sudah lama sekali tak pernah saya sentuh lagi.


Hujan yang mengguyur kota lampung tempat saya singgah untuk sekedar mencari beberapa lembar uang kertas telah mengingatkan saya pada payung. Tumpahan air langit yang tak kunjung reda sejak sore tadi itulah yang menyebabkan perut saya melilit kelaparan, yang kemudian mempertemukan saya dengan payung. Sesungguhnya saya bisa saja memesan makanan dengan menggunakan benda yang terletak di samping tempat tidur yang sering disebut telepon itu. Dan saya benar2 hampir melakukan hal itu jika saja otak saya tak menyuruh saya keluar dari ruangan kamar itu. Itu berarti saya takkan pernah bertemu dengan payung itu.

Saya keluar dari ruangan kotak itu dan mulai menyusuri lorong2 yang kemudian bertemu dengan seseorang yang menyapa saya dengan begitu ramahnya. Saya tak tahu apakah keramahan itu tulus atau karena itu adalah tuntutan dari pekerjaannya. Saya tak ambil pusing tentang hal itu. Setelah berbincang sebentar dengannya, dia yang kemudian saya tahu namanya adalah firman seperti bergegas pergi sambil tak lupa mengucapkan salam pada saya. Setengah menit kemudian, firman sudah membawa benda yang membuat saya tersenyum. Oh, betapa baiknya orang ini. Firman menawarkan sebuah payung untuk saya. Saya pun menyambut tawaran itu dengan suka cita dan tak lupa saya mengucapkan terima kasih padanya.

Saya bahkan tak pernah menyangka bahwa pertemuan kembali saya dengan payung telah menggugah memori saya tentang kapan terakhir kali saya memakai payung. Payung yang malang. Engkau adalah salah satu benda yang bernasib malang seperti benda2 lainnya yang akan dicampakkan oleh si pembuat dan si pemakaimu karena telah ada pengganti yang lebih canggih darimu. Ya, begitulah sifat dasar si pembuatmu, manusia. Setiap kali ada yang baru maka yang lama dicampakkan. Apalagi kemampuan si baru itu melebihi kemampuanmu.

Engkau tak perlu bersedih, karena nasib malangmu itu bukan hanya milikmu sendiri. Banyak sekali benda yang bernasib sepertimu. Habis manis sepah dibuang, begitulah pepatah mengatakan. Untungnya nasibku tidaklah sama sepertimu, payung. Sang penciptaku tidaklah sekejam itu. Sang penciptaku tidaklah seperti itu meskipun Dia sangat mampu untuk melakukan itu. Sang penciptaku tidak pernah melupakan ciptaanNYA. Bahkan ciptaanNYA-lah (aku dan kaumku) yang sering melupakanNYA. Melupakan penciptaNYA sendiri.

Tahukah kamu payung, betapa sesungguhnya kedudukanmu jauh lebih tinggi dari aku dan kaumku. Kenapa?? Karena aku tak bisa sepertimu, meskipun kau dicampakkan namun ketika kau dibutuhkan kau masih saja bersedia melindungiku dari tumpahan air langit itu. Berbeda dengan diriku ini, yang dengan mudah melupakan Sang Penciptaku dan dengan mudah menghujatNYA ketika aku sedang dirundung musibah atau sedang dirundung masalah bahkan ketika aku di beriNYA kenikmatan aku pun masih sering melupakanNYA. Ya, melupakan sang Penciptaku. Betapa malunya aku padamu, wahai payung.

Dan tahukah kamu, wahai payung. Hingga tulisan ini selesai pun aku masih tak bisa mengingat kapan terakhir kali aku menggunakanmu.



Best Regards


PaTLu itu Fahmi

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan jejak anda di kotak ini. Terima kasih atas kunjungan dan jejaknya.

Related Posts with Thumbnails

Komentar paling Anyar

Search


Kata Mutiara

"Hiduplah sesuka hatimu, bukan sesuka nafsumu."

Empoenya Rumah

Foto saya
Ga ada yang sempurna... Akupun masih jauh dari sempurna... Aku hanya manusia biasa yang juga mempunyai ego, amarah, keinginan, kesalahan,,,dan nafsu...

Penunjuk waktu

Followers

Diberdayakan oleh Blogger.

KotaK saling SAPA

Name :
Web URL :
Message :

jumlah pengintip blog