Jogja penuh makna


Sebuah perjalanan yang sarat dengan pelajaran. Itulah yang ada dibenak saya ketika mengingat liburan saya dan beberapa kawan saya di kota sejuta romansa. Banyak hal yang saya dapatkan selama liburan di jogja kali ini, mulai dari hari pertama hingga hari terakhir di jogja. Sebuah kenekatan yang berujung manis, pikir saya. Karena memang pada awalnya saya hendak membatalkan kepergian saya menuju jogja dikarenakan budget untuk liburan hanya tinggal 150rb saja. 150rb untuk 5 hari di jogja, sungguh merupakan sebuah kenekatan bagi saya.

Jika saya tulis semua hal yang menurut saya bisa jadi sebuah cerita dari perjalanan kenekatan saya di jogja, mungkin bisa menjadi 10 cerita lebih, namun kali ini saya akan mencoba menulis sebuah pelajaran yang saya dapatkan dari seorang kawan saya, maulin ni’am.



Pelajaran tentang sebuah sudut pandang, yang hampir satu tahun ini saya belajar dan berguru kepada siapa saja. Satu cerita yang berawal dari sebuah kegembiraan saya dan kawan2 saya saat sedang bercanda gurau di tempat yang bernama kopi Jozz. Lalu datanglah seorang pengamen yang sedang menawarkan jasa suara dan keahlian memainkan gitarnya kepada kami. Saya pun bereaksi sebagaimana diri saya, mengajak becanda dan ngobrol dengan pengamen tersebut. Hampir semua dari kami menikmati nyanyian dan lagu sang pengamen. Namun jelas terlihat di mata saya, seorang dari kami duduk terdiam tanpa suara, dan bahkan terlihat sedang memikirkan hal yang serius. Saya sendiri tak mengerti dan tak tahu apa yang sedang dipikirkan atau beban apa yang sedang dipikul kawan saya ini sehingga di tengah suasana yang sangat menggembirakan ini, dia tak bisa menyembunyikan kegalauannya.

Hingga kami meninggalkan tempat itu, roman muka kawan saya itu masih tak berubah. Entah karena apa saya begitu ingin tahu apa yang ada dibenak kawan saya itu. Rasa penasaran atau rasa peduli. Ataukah rasa penasaran yang saya rasakan sebenarnya adalah jelmaan dari wujud rasa peduli itu sendiri. Tak henti-hentinya saya berpikir, mencoba untuk menganalisa apa gerangan yang menjadi penyebab kebisuan seorang kawan saya itu. Hingga akhirnya waktu sudah menunjukkan pukul 5 pagi dan saya masih tak menemukan kepastian penyebab kebisuan kawan saya. Saya hanya mempunyai beberapa hipotesa beserta fakta penguat hipotesa dan runutan kejadian saja.

Semua hipotesa, rasa penasaran, dan rasa peduli itu akhirnya terjawab sudah, ketika kami sedang bersantai menikmati sunmor dan kampus biru dengan berjalan kaki. Entah sebuah keajaiban atau memang Tuhan sudah berbisik kepada kawan saya yang semalam terlihat gelisah itu, untuk menceritakan kegalauannya itu kepada kami semua.

Saya hanya terdiam ketika kawan saya ini bercerita tentang penyebab kebisuannya yang tak lain adalah karena sikap dan perbuatan saya terhadap si penjual jasa suara dan keahlian bergitarnya. Dia menjelaskan secara gamblang apa yang dirasakannya saat itu. Pertama, apa yang saya lakukan terhadap pengamen itu adalah bentuk penindasan dari seorang yang mempunyai uang kepada seorang yang membutuhkan uang. Kedua, ternyata penindasan yang saya lakukan itu mampu membuat kawan2 saya yang lain merasa enjoy. Sebuah pertentangan hati yang begitu hebat. Kawan saya ini mampu melihat dua sisi sudut pandang secara bersamaan dan hal itulah yang membuatnya terdiam membisu.
Disaat itulah saya sedang melihat kualitas diri saya ini sedang diuji. Pertama, saya mengakui bahwa sudut pandang kawan saya mengenai “penindasan” itu adalah benar. Karena terkadang memang kita sering melakukan “penindasan” dibalik sebuah kebahagiaan yang kita rasakan. Saya pun menyakini bahwa setiap “satu kebahagiaan sejatinya selalu datang bersama satu kesedihan”, hanya saja mungkin kita sering tidak menyadari keberadaan kesedihan yang tertutup kebahagiaan.

Kedua, saya mencoba memberikan pandangan saya terhadap kawan saya itu. Bahwa apa yang saya lakukan itu sama sekali bukan sebuah “penindasan” bagi saya. Apa yang saya lakukan adalah cara saya menghindari kesan bahwa sang pengamen ini hanya datang untuk sekedar mencari uang. Sebuah sisi lain dari pengamen yang saya dapatkan ketika saya menjalani kehidupan sebagai pengamen dan berkumpul dengan para pengamen. Bahwa terkadang kami para pengamen ini juga ingin dianggap selayaknya penghibur yang bukan sekedar mencari uang saja. Kami para pengamen juga ingin merasakan raut kebahagiaan ketika kami sedang berdendang dan bernyanyi. Satu hal yang saya dapatkan ketika menjalani hidup sebagai pengamen dan berkumpul dengan mereka adalah rasa bahagia ketika melihat orang yang saya hibur ini ikut bernyanyi saat saya berdendang. Sebuah kebahagiaan yang lebih berarti dibandingkan ketika saya diberi uang 20ribu untuk satu lagu saja. Itulah mengapa saya selalu mengajak berbicara atau sekedar menanyakan nama dan umur ketika ada pengamen atau pengemis anak kecil.

Entahlah, mungkin apa yang saya katakan itu hanyalah sebuah pembelaan atau pembenaran dari dalam diri saya atas tindakan saya tersebut. Satu hal yang saya pelajari adalah ada bentuk “penindasan” yang tanpa kita sadari sering terlihat sebagai sebuah “kebahagiaan” di mata saya atau kita, namun tidak di mata mereka. Begitu juga sebaliknya, ada bentuk “kebahagiaan” yang tanpa kita sadari sering terlihat sebagai sebuah “penindasan” di mata saya dan kita, namun tidak di mata mereka.

Lagipula saya menyakini perbedaan cara pandang inilah yang membuat kita belajar. Lain waktu saya akan menulis tentang pelajaran apa lagi yang saya dapatkan dari kawan saya faizal jauhari.

Thank to untuk semua kawan saya yang mengikuti liburan bersama di jogja kala itu.

Best regards

PaTLu itu Fahmi

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan jejak anda di kotak ini. Terima kasih atas kunjungan dan jejaknya.

Related Posts with Thumbnails

Komentar paling Anyar

Search


Kata Mutiara

"Hiduplah sesuka hatimu, bukan sesuka nafsumu."

Empoenya Rumah

Foto saya
Ga ada yang sempurna... Akupun masih jauh dari sempurna... Aku hanya manusia biasa yang juga mempunyai ego, amarah, keinginan, kesalahan,,,dan nafsu...

Penunjuk waktu

Followers

Diberdayakan oleh Blogger.

KotaK saling SAPA

Name :
Web URL :
Message :

jumlah pengintip blog