Kehebohan di negara saya

Lagi-lagi Negara saya dilanda kehebohan. Mungkin memang tahun ini, Negara saya sedang berlangganan kehebohan. Mulai dari kasus anggodo dan anggoro bersaudara sang “penguasa keadilan”, lalu beralih ke fasilitas kamar tahanan artalita sang “ratu keadilan” hingga terakhir yang membuat heboh Negara saya adalah seorang pegawai negeri sipil Ditjen pajak golongan IIIA bernama Gayus tambunan, yang memiliki 25 milyar.

Kasus ini benar2 menyita perhatian publik di negara saya. Entah karena kasus ini benar2 sebuah hal yang baru dan mengejutkan atau mungkin kasus ini terlalu fenomenal. Kalau dikatakan sebuah perkara yang baru???tidak juga. Karena mulai dari kasus anggodo dan anggoro sang makelar kasus, kemudian artalita dengan fasilitas mewahnya di kamar tahanan, lalu gayus tambunan yang memiliki uang bermilyar2 meski hanya seorang PNS gol IIIA, bukanlah hal yang baru di Negara saya.



Di mata saya, mereka (anggodo, artalita dan gayus) hanyalah satu dari ribuan orang yang sama seperti mereka. Hanya saja, kebetulan mereka bertiga mungkin mempunyai aura artis sehingga mereka sangat cepat terkenal. Saya yakin, hal2 tersebut bukanlah hal yang baru bagi masyarakat di Negara saya. Asal ada uang, maka bapak akan senang dan tenang. Itulah moto hidup di Negara saya.

Siapapun yang punya uang dan jabatan, bisa melakukan apapun sesuka hati di Negara saya. Saya bukan ingin mendiskreditkan Negara saya, hanya saja saya merindukan Negara saya merdeka, merdeka dari penjajahan, merdeka dari kemiskinan, merdeka dari semua kebusukan.

Terkadang saya berandai2, seandainya datang seorang pemimpin, yang berjanji pada rakyatnya tidak akan menerima fasilitas presiden selama ia menjabat dan akan menggunakan fasilitas umum seperti rakyatnya yakni bus umum, kereta, ojek atau becak sekalipun. Seandainya semua pemimpin, entah itu kepala desa, kepala kecamatan, kepala kabupaten, kepala provinsi, dan kepala Negara melakukan hal itu, mencontohkan kepada masyarakat bahwa naik kendaraan umum itu menyenangkan, tidak hanya pada acara kampanye saja terlihat seperti merakyat, maka Negara saya ini mungkin takkan seperti ini.
Para pemimpin di Negara saya ini sudah lupa bahwa pemimpin adalah tauladan atau panutan.

Rakyatnya disuruh berhemat tapi para pemimpin meminta kenaikan gaji dan fasilitas. Sungguh ironis sekali kondisi Negara saya ini. Saya benar2 sedang menunggu seorang pemimpin yang bisa menjadi tauladan dan panutan bagi rakyatnya. Saya menunggu seorang pemimpin yang benar2 hidup merakyat bukan cuma di mulut saja bilang merakyat tapi ketika rakyatnya tidur di emper2 toko dia sedang tidur di kamar hotel bintang enambelas.

Ah, lagi2 saya melantur. Saya sedang melantur tentang Negara saya. Negara yang butuh pemimpin nan tauladan dan mampu menjadi panutan.

25 maret 2010

PaTLu itu Fahmi

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan jejak anda di kotak ini. Terima kasih atas kunjungan dan jejaknya.

Related Posts with Thumbnails

Komentar paling Anyar

Search


Kata Mutiara

"Hiduplah sesuka hatimu, bukan sesuka nafsumu."

Empoenya Rumah

Foto saya
Ga ada yang sempurna... Akupun masih jauh dari sempurna... Aku hanya manusia biasa yang juga mempunyai ego, amarah, keinginan, kesalahan,,,dan nafsu...

Penunjuk waktu

Followers

Diberdayakan oleh Blogger.

KotaK saling SAPA

Name :
Web URL :
Message :

jumlah pengintip blog