jakarta punya cerita

Kisah perjalanan hidup di Jakarta

Sabtu, akhir bulan November. Bermodalkan hanya dengan tekad tanpa persiapan, kami (saya dan satu temen saya) berangkat menuju kota yang mendapat julukan kota metropolitan, kota yang terkenal dengan kehidupan yang keras dan kejam kata sebagian orang. Ya, Jakarta. Ibukota Negara Indonesia tercinta ini memang sering mendapat julukan yang miring, mulai dari kota para koruptor, kota macet, kota para maling, kota polusi, namun dibalik semua itu Jakarta tetaplah ibukota Indonesia yang digadang-gadang menjadi pusat perekonomian. Sekejam apapun kota Jakarta, kota ini tetap mempunyai nilai lebih di mata para pencari kerja, banyak dari mereka yang rela meninggalkan kota dan desa mereka untuk mengadu nasib di kota metropolitan. Sampai-sampai pemerintah DKI Jakarta, kuwalahan menangani banyaknya pendatang baru yang nekat datang untuk menjajal kerasnya ibukota Indonesia. Toh, mereka yang dari desa dengan kesempatan kerja yang lebih sedikit (pikir mereka) tetap memilih hijrah dengan harapan yang besar.

Saya jadi teringat sebuah buku yang pernah saya baca berjudul “Rich Dad’s Prophecy”. Sebuah buku tentang perjalanan hidup seorang investor dengan segala pelajaran lika-liku kehidupan nyata. Berikut kutipan dari buku tersebut yang masih saya ingat.



“Kebanyakan orang sejak lahir di program untuk mencari pekerjaan. Kenyataannya mereka pergi ke sekolah untuk memperkuat pemrograman tersebut. Sistem atau konsep yang ada memprogram kita untuk menjadi karyawan atau pencari kerja. Bentuk pendidikan yang kita butuhkan adalah pendidikan menghadapi kehidupan nyata.”

Buku ini bercerita tentang sistem di Negara adidaya Amerika. Satu pertanyaan penting adalah Bagaimana sistem di Negara kita???
……………….
……………….
……………….
Saya yakin, sebagian dari anda pun akan berpikir hal yang sama dengan saya. Ya, sistem di Negara kita pun tak jauh berbeda. Kita di program untuk mencari pekerjaan. Di sekolah2 atau perguruan tinggi pun seperti itu. Sejak kecil kita selalu di program untuk menyelesaikan sekolah yang tinggi biar dapat pekerjaan yang bagus. Biar dapet pekerjaan dengan gaji yang tinggi, tunjangan yang tinggi, fasilitas yang bagus dll. Bahkan semasa saya kecil, saya masih ingat betul betapa kebanyakan orang tua menginginkan anak2nya menjadi pegawai negeri.

Dahulu, ketika seorang sudah menjadi sarjana itu sudah menjadi jaminan masa depan apalagi sarjana teknik yang dulu masih bergelar insinyur. Gelar insinyur begitu wah pada jaman itu. Namun sungguh ironis, ketika kita melihat potret kehidupan jaman sekarang, berjuta2 orang dengan gelar sarjana berebut pekerjaan. Seiring berjalannya waktu sistem pendidikan di Negara kita memang mencetak berjuta-juta sarjana dengan berbagai titel. Sarjana-sarjana tersebut membawa program yang diajarkan di dalam otak mereka saat mereka menempuh pendidikan tersebut yaitu MENCARI PEKERJAAN.
Inikah potret sistem pendidikan di Negara kita???

Satu pertanyaan yang saya ajukan kepada salah satu teman saya di situs jejaring sosial tentang topik di atas adalah “Ironis atau sesuatu hal yang wajar?”
Dan saya mendapatkan jawaban yang sangat menggelitik dari teman saya itu.
Jawabannya adalah “Terlalu ironis untuk diwajarkan”

Ya, saya langsung mengetik “like this” untuk jawaban teman saya.

Entah sampai kapan sistem ini akan berlangsung. Sistem yang mengajarkan atau saya lebih suka mengatakan memprogram kita untuk menjadi karyawan atau PENCARI KERJA.


best regards

PaTLu itu Fahmi

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan jejak anda di kotak ini. Terima kasih atas kunjungan dan jejaknya.

Related Posts with Thumbnails

Komentar paling Anyar

Search


Kata Mutiara

"Hiduplah sesuka hatimu, bukan sesuka nafsumu."

Empoenya Rumah

Foto saya
Ga ada yang sempurna... Akupun masih jauh dari sempurna... Aku hanya manusia biasa yang juga mempunyai ego, amarah, keinginan, kesalahan,,,dan nafsu...

Penunjuk waktu

Followers

Diberdayakan oleh Blogger.

KotaK saling SAPA

Name :
Web URL :
Message :

jumlah pengintip blog