Kosan saya yang baru

Kemarin, rabu 10 maret 2010 bertepatan dengan hari film nasional saya merasakan capek yang luar biasa. Padahal aktifitas yang saya lakukan juga tidak terlalu padat. Ada apa gerangan, pikir saya. Malam itu, sekitar pukul 20.00WIB saya berkumpul dengan bapak kos saya dan mas fandi, penghuni kamar kos sebelah kamar saya. Banyak cerita yang saya dapatkan dari acara kumpul bersama mereka, mulai dari cerita klenik warung makan di daerah saya, hingga cerita tentang berbagai persoalan yang sedang melanda negeri tercinta saya, Indonesia.

Tapi kali ini saya tidak sedang ingin menulis tentang cerita yang saya dapatkan semalam. Yang ingin saya tulis dan ceritakan adalah tentang cerita kos saya yang baru ini. Sebenarnya nggak baru juga, soalnya sudah hampir lima bulan saya disini. Pertengahan nopember saya pindah ke kos baru karena sudah diusir dari tempat kos saya yang lama. Lebih tepatnya, sebuah kontrakan yang dijadikan kantor sebuah organisasi yang mana telah turut andil membesarkan dan membentuk saya menjadi seperti sekarang.



Kosan saya yang baru ini mempunyai kamar berjumlah 12 kamar. Enam kamar dibawah dan enam kamar di atas berbentuk hampir menyerupai huruf U. Dua kamar di sisi kanan, 3 kamar di sisi tengah dan satu kamar di sisi kiri. Begitulah kira-kira gambaran kosan saya.

Satu hal yang menarik bagi saya tentang kosan saya adalah para penghuninya. Hampir semua penghuni kosan saya mempunyai kebiasaan yang sama, yakni begitu nyampe kosan mereka tak pernah berinteraksi dengan penghuni kosan yang lain. Pada awalnya, saya berpikir mungkin karena mereka adalah tipikal orang yang malu dan takut untuk memulai berinteraksi. Tapi ternyata pemikiran saya itu salah. Saya sudah mencoba untuk memulai berinteraksi dengan mereka, dengan mendatangi kamar kos masing2, mengajak mereka ngobrol, tapi hasilnya nihil. Tidak hanya sekali dua kali saya menyempatkan untuk berkunjung ke kamar mereka masing2. Mereka tetap saja sama. Pernah pula saya berpikir bahwa mungkin hal ini karena mereka tidak menyukai saya, namun itu juga salah. Karena setelah saya amati, mereka juga tidak melakukan interaksi dengan penghuni yang lain. Hanya ada dua penghuni yang melakukan interaksi setelah saya sering berkunjung ke kamar kos mereka. Mas fandy dan pak boro. Hanya mereka berdua yang sering berkunjung atau sekedar mengobrol sambil merokok di depan kamar kami masing2.

Dari situlah saya menyimpulkan sesuatu tentang kosan baru saya ini yaitu “hidupku adalah hidupku, hidupmu adalah hidupmu”. Entahlah, apa yang menjadi latar belakang penghuni kos saya hingga memutuskan untuk menjalani hidup seperti itu. Mungkin ini hanya karena saya yang terbiasa dengan lingkungan yang suka melakukan interaksi.

bagaimana dengan pengalaman anda?

PaTLu itu Fahmi

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan jejak anda di kotak ini. Terima kasih atas kunjungan dan jejaknya.

Related Posts with Thumbnails

Komentar paling Anyar

Search


Kata Mutiara

"Hiduplah sesuka hatimu, bukan sesuka nafsumu."

Empoenya Rumah

Foto saya
Ga ada yang sempurna... Akupun masih jauh dari sempurna... Aku hanya manusia biasa yang juga mempunyai ego, amarah, keinginan, kesalahan,,,dan nafsu...

Penunjuk waktu

Followers

Diberdayakan oleh Blogger.

KotaK saling SAPA

Name :
Web URL :
Message :

jumlah pengintip blog